Ingatlah Rahmat Tuhan
Ayat bacaan: Ratapan 3:21-23
=======================
"Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"
Pagi yang cerah. Itu yang hadir ketika saya terbangun pagi ini. Ada istri di samping saya tersenyum, ada dua anjing kecil yang dengan gembira menggoyang-goyangkan ekornya melihat kami sudah bangun. "What a blessful day, thank you Jesus." saya berucap dalam hati. Terima kasih atas satu hari lagi yang diberikan kepada kami, bukan hanya sekedar hari, tapi hari yang berisi rahmat Tuhan yang segar dan baru. Fresh from the oven. Kesibukan bakal hadir sebentar lagi, ada banyak pekerjaan, kegiatan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan, masih ada beban-beban yang harus ditanggulangi, tapi itu bukan berarti bahwa semua itu harus merebut sukacita, sebuah sukacita surgawi yang langsung disediakan Tuhan tepat begitu saya bangun.
Seringkali kita terlalu fokus kepada beban dan masalah sehingga kita lupa seperti apa kebaikan Tuhan itu. Kita lupa bahwa jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menjalani hari, masih bernafas, masih punya kekuatan untuk melakukan sesuatu, itu pun tidak kurang merupakan berkat Tuhan. Kita lupa jika pagi yang cerah menyambut kita, matahari bersinar, awan-awan putih menambah warna langit biru cerah, ayam berkokok, burung-burung berkicau, itu pun berkat Tuhan. Bunga bermekaran, secangkir teh atau kopi panas, semua itu pun berkat Tuhan. Tapi kita seringkali mengabaikan hal ini dan lebih cenderung untuk memperhatikan berbagai masalah yang harus kita hadapi setiap hari. Tidak salah untuk berkonsentrasi pada tugas atau pekerjaan, tapi jangan sampai semua itu merebut atau menghilangkan sukacita yang berasal dari Tuhan, yang telah Dia sediakan kepada kita setiap hari. Ayat bacaan hari ini mengatakan dengan jelas mengenai fokus utama yang seharusnya kita lihat. Serangkaian ayat terdahulu bercerita mengenai berbagai penderitaan, kesusahan yang kita lihat bahkan mungkin sedang kita alami, tapi lalu si penulis mengingatkan bahwa bukan itu semua yang harus menjadi fokus perhatian kita. Demikian katanya: "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:21-23). Bagaimana si penulis bisa mengatakan demikian? Bukankah ia baru saja meratapi kehancuran Yerusalem? Karena penulis mengenal pribadi Tuhan. Dia tahu pasti bahwa Tuhan memberikan harapan baru yang hadir pada kita setiap pagi. Tuhan mencurahkan berkat baru, menyambut kita dengan penuh kasih setiap kita membuka mata terbangun dari tidur. Masalah boleh ada, tapi kita punya Tuhan yang luar biasa besar kasih setiaNya yang sanggup membawa kita terbang mengatasi itu.
Ada begitu banyak janji berkat Tuhan kepada kita. Ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang tertulis dalam alkitab. Hari ini mari kita fokus kepada satu bagian dari Mazmur saja, Mazmur 103, karena bagian ini memuat berbagai kebaikan Tuhan yang Dia berikan kepada kita setiap hari.
- Dia mengampuni dosa kita. (ay 3)
- Dia menyembuhkan segala penyakit kita (ay 3)
- Dia menebus hidup kita dari kebinasaan (ay 4)
- Dia memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat (ay 4)
- Dia memuaskan hasrat/kebutuhan kita dengan kebaikan sehingga kita diperbaharui seperti masa muda rajawali (ay 5)
- Dia menjalankan keadilan dan hukum bagi anak-anakNya yang tertindas. Tuhan memerdekakan kita. (ay 6)
- Dia memperkenalkan jalan-jalanNya, rancanganNya kepada anak-anakNya. (ay 7)
- Dia begitu sabar dalam memberikan kesempatan bagi kita untuk berubah (ay 8)
- Dia penuh kasih, setinggi langit di atas bumi besar kasihnya pada 8,11).
- Dia bukanlah sosok yang mendendam dan selalu menuntut. Dia Bapa yang selalu mengerti, peduli dan pengampun. (ay 9-10,12)
- Dia sosok Bapa yang sayang anak-anakNya (ay 13)
- Kasih setiaNya berlimpah (ay 8) dan berlaku selama-lamanya, turun-temurun (ay 17)
Tuhan mengenal betul karakter kita manusia, ciptaanNya yang lemah dan terbatas. Kita ini hanyalah debu (ay 14), masa hidup kita singkat (15-16). "Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.". Bagi kita semua yang berpegang pada perjanjianNya, dan mau melakukan perintahNya, Tuhan sudah menegakkan tahtaNya di surga, kerajaanNya berkuasa atas segala-galanya. (ay 18-19). Artinya tidak ada masalah sama sekali bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmatNya dikala kita mengalami kesulitan, karena Dia berkuasa atas segalanya, untuk selamanya.
Pagi ini sudahkah anda bangun dan mensyukuri segala kebaikan yang dihadirkan Tuhan dalam hidup anda? Sudahkah anda berterimakasih atas rahmat baru yang dicurahkanNya tadi pagi? Jika sudah, teruslah pastikan untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikanNya. Jika belum, mulailah hari ini. Tinggallah dalam hadiratNya dalam doa dan ingat terus rahmatNya kepada anda. Pertahankanlah terus maka anda akan menjadi lebih kuat dalam iman dan semakin menyadari kasih Tuhan lebih dari waktu-waktu sebelumnya.
Jadikan berkat Tuhan menjadi nyata dan hidup dalam diri anda setiap hari Read More..
Mana yang lebih menyenangkan, beraksi panggung di depan banyak penonton atau segelintir? Jika anda seorang musisi, rasanya pilihan akan jatuh kepada banyak penonton. Ada banyak artis baik dalam dan luar negeri yang pernah saya wawancarai akan sangat termotivasi dan bertambah semangatnya ketika tampil di depan banyak orang. Apalagi jika mereka tahu lagu-lagu yang dibawakan dan bernyanyi bersama. Tapi kemarin saya mendapatkan sesuatu yang lain dari yang lain. Ada musisi yang saya kenal tampil di sebuah restoran hotel bersama dua orang rekannya. Saya ada di sana karena saya punya janji untuk bertemu dengannya. Mereka main cuma untuk menghibur sedikit sekali pengunjung restoran. Itupun hampir tidak ada tanggapan sama sekali dari pengunjung, karena mereka sibuk makan malam dan berbincang-bincang dengan keluarga atau rekan semeja. Tapi ketiga musisi ini terus main. Mereka tidak mempedulikan hal itu sama sekali, mereka tetap tampil memberikan yang terbaik, ada atau tidak tepukan atau mata yang melihat mereka. Padahal mereka cukup terkenal dan jelas punya skill di atas rata-rata. Ketika saya tanyakan, teman musisi ini berkata bahwa tugas mereka adalah menghibur. Ada atau tidak ada penonton, mereka memang ditugaskan untuk itu, dan mereka pun melakukannya dengan sebaik mungkin. "Ada saatnya banyak penonton, dan kami suka itu, tapi ada saatnya kami dicuekin, ya tidak apa-apa, kami tetap main dengan baik kan?" katanya sambil tertawa.
Sungguh kita adalah manusia yang terbatas dan punya banyak kelemahan. Manusia bukanlah Tuhan yang punya kuasa tidak terbatas. Kita punya batas, kelebihan kita pun ada batasnya. Kelemahan? Banyak. Tidak ada satupun manusia yang mampu melakukan segalanya. Sehebat-hebatnya kita, pada suatu saat kita akan bertemu dengan batas-batas dimana kita tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Seringkali apa yang bisa membuat perbedaan bukanlah kuat atau hebatnya kita, tapi sejauh mana kita punya semangat untuk terus berjuang, sejauh mana kita punya pengharapan, dan sekuat apa kita berakar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Seperti yang telah saya tulis kemarin, seringkali kita lebih memilih untuk memanjakan perasaan negatif kita dan mengasihani diri terus menerus secara berlebihan. Bayangkan jika seorang atlit tidak lagi punya semangat untuk berjuang kemudian memilih untuk menundukkan kepalanya. Di saat seperti itulah atlit itu tidak lagi berbahaya dan akan mudah untuk dikalahkan. Memandang ke bawah, ke kiri, kanan, muka, belakang, kita akan menjumpai bahwa ada banyak tekanan yang cepat atau lambat akan melemahkan kita. Berita buruk, hinaan, godaan, ejekan, semua itu bisa meracuni hati kita, sehingga kita, manusia yang lemah ini, sewaktu-waktu bisa dikalahkan oleh tekanan demi tekanan tersebut. Suara saya tidak cempreng, wajah saya tidak cantik, saya bodoh, saya miskin, saya tidak lengkap, dan sebagainya, itu bisa menjadi titik-titik lemah untuk diserang dari segala arah jika kita mempercayai bahwa kita memang seburuk itu. Memilih untuk memandang pada kelemahan tidak akan pernah bisa membuat kita kuat. Apalagi jika Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa kita ini terlukis di telapak tangan dan berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16), bahkan dikatakan berharga dan mulia di mataNya, begitu dikasihiNYa (Yesaya 43:4), mungkinkah kita memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pecundang? Orang yang harus mengasihani bahkan mengutuk dirinya sendiri setiap saat? Tentu tidak bukan? Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?



