Jumat, 20 November 2009

Renungan Harian Online: Ingatlah Rahmat Tuhan

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/

Ingatlah Rahmat Tuhan

Ayat bacaan: Ratapan 3:21-23
=======================
"Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"

rahmat TuhanPagi yang cerah. Itu yang hadir ketika saya terbangun pagi ini. Ada istri di samping saya tersenyum, ada dua anjing kecil yang dengan gembira menggoyang-goyangkan ekornya melihat kami sudah bangun. "What a blessful day, thank you Jesus." saya berucap dalam hati. Terima kasih atas satu hari lagi yang diberikan kepada kami, bukan hanya sekedar hari, tapi hari yang berisi rahmat Tuhan yang segar dan baru. Fresh from the oven. Kesibukan bakal hadir sebentar lagi, ada banyak pekerjaan, kegiatan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan, masih ada beban-beban yang harus ditanggulangi, tapi itu bukan berarti bahwa semua itu harus merebut sukacita, sebuah sukacita surgawi yang langsung disediakan Tuhan tepat begitu saya bangun.

Seringkali kita terlalu fokus kepada beban dan masalah sehingga kita lupa seperti apa kebaikan Tuhan itu. Kita lupa bahwa jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menjalani hari, masih bernafas, masih punya kekuatan untuk melakukan sesuatu, itu pun tidak kurang merupakan berkat Tuhan. Kita lupa jika pagi yang cerah menyambut kita, matahari bersinar, awan-awan putih menambah warna langit biru cerah, ayam berkokok, burung-burung berkicau, itu pun berkat Tuhan. Bunga bermekaran, secangkir teh atau kopi panas, semua itu pun berkat Tuhan. Tapi kita seringkali mengabaikan hal ini dan lebih cenderung untuk memperhatikan berbagai masalah yang harus kita hadapi setiap hari. Tidak salah untuk berkonsentrasi pada tugas atau pekerjaan, tapi jangan sampai semua itu merebut atau menghilangkan sukacita yang berasal dari Tuhan, yang telah Dia sediakan kepada kita setiap hari. Ayat bacaan hari ini mengatakan dengan jelas mengenai fokus utama yang seharusnya kita lihat. Serangkaian ayat terdahulu bercerita mengenai berbagai penderitaan, kesusahan yang kita lihat bahkan mungkin sedang kita alami, tapi lalu si penulis mengingatkan bahwa bukan itu semua yang harus menjadi fokus perhatian kita. Demikian katanya: "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:21-23). Bagaimana si penulis bisa mengatakan demikian? Bukankah ia baru saja meratapi kehancuran Yerusalem? Karena penulis mengenal pribadi Tuhan. Dia tahu pasti bahwa Tuhan memberikan harapan baru yang hadir pada kita setiap pagi. Tuhan mencurahkan berkat baru, menyambut kita dengan penuh kasih setiap kita membuka mata terbangun dari tidur. Masalah boleh ada, tapi kita punya Tuhan yang luar biasa besar kasih setiaNya yang sanggup membawa kita terbang mengatasi itu.

Ada begitu banyak janji berkat Tuhan kepada kita. Ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang tertulis dalam alkitab. Hari ini mari kita fokus kepada satu bagian dari Mazmur saja, Mazmur 103, karena bagian ini memuat berbagai kebaikan Tuhan yang Dia berikan kepada kita setiap hari.

  • Dia mengampuni dosa kita. (ay 3)
  • Dia menyembuhkan segala penyakit kita (ay 3)
  • Dia menebus hidup kita dari kebinasaan (ay 4)
  • Dia memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat (ay 4)
  • Dia memuaskan hasrat/kebutuhan kita dengan kebaikan sehingga kita diperbaharui seperti masa muda rajawali (ay 5)
  • Dia menjalankan keadilan dan hukum bagi anak-anakNya yang tertindas. Tuhan memerdekakan kita. (ay 6)
  • Dia memperkenalkan jalan-jalanNya, rancanganNya kepada anak-anakNya. (ay 7)
  • Dia begitu sabar dalam memberikan kesempatan bagi kita untuk berubah (ay 8)
  • Dia penuh kasih, setinggi langit di atas bumi besar kasihnya pada 8,11).
  • Dia bukanlah sosok yang mendendam dan selalu menuntut. Dia Bapa yang selalu mengerti, peduli dan pengampun. (ay 9-10,12)
  • Dia sosok Bapa yang sayang anak-anakNya (ay 13)
  • Kasih setiaNya berlimpah (ay 8) dan berlaku selama-lamanya, turun-temurun (ay 17)

Tuhan mengenal betul karakter kita manusia, ciptaanNya yang lemah dan terbatas. Kita ini hanyalah debu (ay 14), masa hidup kita singkat (15-16). "Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.". Bagi kita semua yang berpegang pada perjanjianNya, dan mau melakukan perintahNya, Tuhan sudah menegakkan tahtaNya di surga, kerajaanNya berkuasa atas segala-galanya. (ay 18-19). Artinya tidak ada masalah sama sekali bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmatNya dikala kita mengalami kesulitan, karena Dia berkuasa atas segalanya, untuk selamanya.

Pagi ini sudahkah anda bangun dan mensyukuri segala kebaikan yang dihadirkan Tuhan dalam hidup anda? Sudahkah anda berterimakasih atas rahmat baru yang dicurahkanNya tadi pagi? Jika sudah, teruslah pastikan untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikanNya. Jika belum, mulailah hari ini. Tinggallah dalam hadiratNya dalam doa dan ingat terus rahmatNya kepada anda. Pertahankanlah terus maka anda akan menjadi lebih kuat dalam iman dan semakin menyadari kasih Tuhan lebih dari waktu-waktu sebelumnya.

Jadikan berkat Tuhan menjadi nyata dan hidup dalam diri anda setiap hari Read More..

Rabu, 18 November 2009

Renungan Harian Online: Matius Si Pemungut Cukai

Matius Si Pemungut Cukai

sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/

Ayat bacaan: Matius 9:9
======================
"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia."

melayani satu orangMana yang lebih menyenangkan, beraksi panggung di depan banyak penonton atau segelintir? Jika anda seorang musisi, rasanya pilihan akan jatuh kepada banyak penonton. Ada banyak artis baik dalam dan luar negeri yang pernah saya wawancarai akan sangat termotivasi dan bertambah semangatnya ketika tampil di depan banyak orang. Apalagi jika mereka tahu lagu-lagu yang dibawakan dan bernyanyi bersama. Tapi kemarin saya mendapatkan sesuatu yang lain dari yang lain. Ada musisi yang saya kenal tampil di sebuah restoran hotel bersama dua orang rekannya. Saya ada di sana karena saya punya janji untuk bertemu dengannya. Mereka main cuma untuk menghibur sedikit sekali pengunjung restoran. Itupun hampir tidak ada tanggapan sama sekali dari pengunjung, karena mereka sibuk makan malam dan berbincang-bincang dengan keluarga atau rekan semeja. Tapi ketiga musisi ini terus main. Mereka tidak mempedulikan hal itu sama sekali, mereka tetap tampil memberikan yang terbaik, ada atau tidak tepukan atau mata yang melihat mereka. Padahal mereka cukup terkenal dan jelas punya skill di atas rata-rata. Ketika saya tanyakan, teman musisi ini berkata bahwa tugas mereka adalah menghibur. Ada atau tidak ada penonton, mereka memang ditugaskan untuk itu, dan mereka pun melakukannya dengan sebaik mungkin. "Ada saatnya banyak penonton, dan kami suka itu, tapi ada saatnya kami dicuekin, ya tidak apa-apa, kami tetap main dengan baik kan?" katanya sambil tertawa.

Seperti itulah gambaran di dunia musik. Ada musisi yang menyadari misi mereka yang sesungguhnya, tapi ada pula yang hanya mau bermain di depan banyak orang dan menolak main jika penontonnya tidak sebanyak yang ia harapkan. Dalam dunia pelayanan hal ini pun bisa terjadi. Ada orang yang tidak mau mengeluarkan kemampuan terbaik ketika yang dilayani mungkin hanya satu orang. Buang-buang waktu saja rasanya melayani hanya satu orang. Apalagi jika kita menganggap bahwa orang itu begitu berdosa, begitu hina dan menurut kita tidak ada apa-apa lagi yang bisa diharapkan daripada mereka karena dosanya sudah begitu keterlaluan besarnya. Padahal Tuhan tidak pernah mengajarkan demikian. Satu orang bertobat, seisi surga bersukacita. Kita akan lihat ayatnya sebentar lagi. Tapi sebelum itu, mari kita lihat keteladanan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus sendiri.

Yesus tidak pernah membeda-bedakan jumlah dalam pelayananNya di muka bumi ini. Baik di depan ribuan orang, maupun hanya satu orang, Dia selalu memberi yang terbaik dan meluangkan waktuNya sepenuhnya. Salah satu kisah mengenai Matius saya angkat hari ini. Matius awalnya bukanlah orang yang baik di mata masyarakat. Profesinya adalah sebagai pemungut cukai. Artinya ia bekerja untuk kepentingan Roma, bangsa penjajah. Pemungut cukai digolongkan ke dalam orang berdosa pada masa itu dan dikucilkan masyarakat karena dianggap musuh. Pada suatu hari langkah Yesus membawaNya bertemu dengan Matius."Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia." (Matius 9:9). Yesus tidak melewatkan Matius begitu saja. Ia hanya seorang, dan ia orang berdosa, ia adalah musuh. Yesus tidak melewatinya tapi malah menghampiri Matius dan mengajaknya ikut. Matius memilih untuk berdiri dan mengikut Yesus. Sebuah pilihan yang sangat tepat. Lalu Yesus pun makan di rumah Matius. Lihatlah saat itu ternyata kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Matius terdengar oleh pemungut cukai dan orang-orang berdosa di mata masyarakat lainnya. Mereka pun berbondong-bondong datang. Dari satu kemudian berkembang menjadi banyak. Orang Farisi pun kaget melihat itu dan segera bertanya kepada para murid, "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" (ay 11). Yesus ternyata mendengar itu dan kemudian berkata: "Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (ay 12-13). Dokter tugasnya menyembuhkan orang sakit, biar satu orang sekalipun, kalau sakit tentu diobati bukan? Demikian pula kata Yesus, bahwa tugasNya ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Meski hanya satu jiwa saja, itupun berharga bagiNya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Matius bertobat dan menjadi murid Yesus. Tidak hanya murid biasa, tapi ia pun termasuk dalam satu dari empat penulis Injil yang bisa kita baca hingga hari ini. Itu semua bermula ketika Yesus tidak memandang jumlah dan mau repot-repot mengurusi satu orang saja.

Mari kita lihat dua perumpamaan diberikan Yesus mengenai ini. Pertama dalam perumpamaan tentang domba yang hilang. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (Lukas 15:4). Jika satu domba hilang, tidakkah si gembala mau kembali ke padang gurun untuk mencari dombanya? Mungkin tersesat, mungkin celaka, dan mereka pasti rela kembali mencari untuk menyelamatkan dombanya. Demikian pula Yesus. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (ay 7). Meski hanya satu orang bertobat, sukacita di surga pun akan terjadi. Lalu mari kita lanjutkan dengan perumpamaan tentang dirham yang hilang. "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan." (ay 8-9). Satu dirham (uang perak) hilang, tentu akan dicari, meski masih ada 9 uang perak lagi yang tidak hilang. Yesus kemudian menyimpulkan, "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Satu orang bertobat, seluruh malaikat pun akan bersorak sorai. Tidak harus seratus, seribu, sejuta, tapi satu saja sudah membuat seisi surga bersorak gembira.

Satu jiwa sangat berharga di mata Allah. Sudahkah kita rela untuk meluangkan waktu dan kesibukan kita untuk melayani satu orang saja? Menjadi terang dan garam bagi dunia tentu menjadi impian semua anak-anak Tuhan, tapi menjadi terang dan garam bagi satu orang pun tidak kurang pentingnya. Jika kita bisa mempertanggungjawabkan satu orang, Tuhan pasti akan melipatgandakannya kelak. Tapi berapapun jumlahnya, yang penting adalah kerinduan hati kita untuk melihat ada jiwa yang diselamatkan. Saat ini dunia penuh dengan "orang-orang sakit", jiwa terhilang dan tidak tahu jalan pulang. Mereka sungguh membutuhkan perhatian dan pelayanan kita. Berapapun jumlahnya, satu orang sekalipun, janganlah kita membiarkan mereka putus pengharapan dan merasa terabaikan. Sebab satu orang sekalipun sangatlah berharga bagi Tuhan.

Satu orang bertobat, seisi surga bersukacita

Read More..

Sabtu, 14 November 2009

MSV Web Browser 0.9.1

Ini adalah program ke-tiga yang dibuat MSV Company.

Sangat sederhana

MSV Web Browser 0.9.1
------------------------------------------
- Minor bug fix
------------------------------------------
How to use
----------
just enter url in the url box and press go
only support 1 tab
can't support cookies

Dibuat untuk berselancar secara cepat dengan ram kecil
Hanya untuk personal

*Maaf, masih banyak bugnya

Dapat didownload di sini:
http://www.4shared.com/file/152052005/e62186a/MSV_Web_Browser_091.html

Mohon sarannya ya..
Vincent utomo Read More..

Renungan Harian Online: Pandanglah ke Atas

Pandanglah ke Atas

sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/

Ayat bacaan: Ibrani 12:3
===================
"Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."

pandanglah ke atasSungguh kita adalah manusia yang terbatas dan punya banyak kelemahan. Manusia bukanlah Tuhan yang punya kuasa tidak terbatas. Kita punya batas, kelebihan kita pun ada batasnya. Kelemahan? Banyak. Tidak ada satupun manusia yang mampu melakukan segalanya. Sehebat-hebatnya kita, pada suatu saat kita akan bertemu dengan batas-batas dimana kita tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Seringkali apa yang bisa membuat perbedaan bukanlah kuat atau hebatnya kita, tapi sejauh mana kita punya semangat untuk terus berjuang, sejauh mana kita punya pengharapan, dan sekuat apa kita berakar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Seperti yang telah saya tulis kemarin, seringkali kita lebih memilih untuk memanjakan perasaan negatif kita dan mengasihani diri terus menerus secara berlebihan. Bayangkan jika seorang atlit tidak lagi punya semangat untuk berjuang kemudian memilih untuk menundukkan kepalanya. Di saat seperti itulah atlit itu tidak lagi berbahaya dan akan mudah untuk dikalahkan. Memandang ke bawah, ke kiri, kanan, muka, belakang, kita akan menjumpai bahwa ada banyak tekanan yang cepat atau lambat akan melemahkan kita. Berita buruk, hinaan, godaan, ejekan, semua itu bisa meracuni hati kita, sehingga kita, manusia yang lemah ini, sewaktu-waktu bisa dikalahkan oleh tekanan demi tekanan tersebut. Suara saya tidak cempreng, wajah saya tidak cantik, saya bodoh, saya miskin, saya tidak lengkap, dan sebagainya, itu bisa menjadi titik-titik lemah untuk diserang dari segala arah jika kita mempercayai bahwa kita memang seburuk itu. Memilih untuk memandang pada kelemahan tidak akan pernah bisa membuat kita kuat. Apalagi jika Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa kita ini terlukis di telapak tangan dan berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16), bahkan dikatakan berharga dan mulia di mataNya, begitu dikasihiNYa (Yesaya 43:4), mungkinkah kita memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pecundang? Orang yang harus mengasihani bahkan mengutuk dirinya sendiri setiap saat? Tentu tidak bukan? Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?

Kemarin kita sudah melihat bahwa kita harus terus memusatkan atau mengarahkan pandangan kepada Yesus. Hari ini mari kita melihat lebih jauh alasan bagi kita untuk mengalahkan tekanan-tekanan dan serangan yang mengarah kepada titik-titik lemah kita dengan terus memandang ke atas. Penulis Ibrani berkata "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa." (Ibrani 12:3) Dari ayat ini kita bisa melihat apa yang terjadi jika kita mengalihkan pandangan dari Kristus dan terus membiarkan diri kita untuk dihujani oleh kekuatan-kekuatan negatif, maka akibatnya yang terjadi adalah kita akan menjadi lemah dan putus asa. Padahal Yesus sudah menyelesaikan semuanya. Haruskah karya penebusan Kristus itu menjadi sia-sia bagi kita?

Dalam Markus 4 kita melihat sebuah perumpamaan yang sangat jelas mengenai hal ini yaitu tentang firman Tuhan yang jatuh pada semak duri. Ayatnya berbunyi demikian: "Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." (Markus 4:18-19). Semak duri menggambarkan hati manusia yang penuh onak dan duri, dipenuhi kekhawatiran dunia, tipu muslihat dalam hal kekayaan dan keinginan-keinginan duniawi lainnya, yang merintangi hati kita seperti duri yang tumbuh subur di atasnya. Tuhan Yesus berkata bahwa bila kekhawatiran dunia seperti ini merasuki hati dan pikiran kita, maka itu akan menghimpit benih firman yang ditabur ke dalam hati kita, sehingga firman itu pun tidak bisa berbuah. Jika ini terjadi, iman kita akan menjadi layu, dan jika ini terjadi, kita pun akan menghadapi masalah serius.

Sekali lagi, apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan pengaruh negatif atau reaksi kelemahan ini? Pandanglah ke atas! Tegakkan kepala kita, dan arahkan kembali pandangan kita kepada Yesus yang akan terus menyempurnakan iman kita. Ingatlah akan Dia, bukan ingat kepada segala kekhawatiran dunia dan tekanan-tekanan yang menerpa kita. Ingatlah kepada apa yang diucapkan Tuhan lewat firman-firmanNya. Itu semua adalah buah pikiran Tuhan yang telah diberikan kepada kita, dan biarkanlah itu menggerakkan pikiran dan mengisi penuh hati kita. Jadikan buah pikiran Tuhan itu menjadi dasar pemikiran kita.

Bagaimana jika berbagai tekanan dan hal-hal negatif itu sudah terlebih dahulu meracuni kita? Firman Tuhan berkata "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Mungkin kita memiliki banyak kekhawatiran, mungkin kita menelan banyak ejekan, mungkin kita mengalami berbagai peristiwa tidak menyenangkan di masa lalu, mungkin kita trauma, merasa rendah, tidak berguna dan sebagainya, namun tidak satupun dari itu yang bisa mengganggu kita apabila kita mengarahkan pandangan kita bukan kepada masalah-masalah itu melainkan melihat ke atas, mengarah kepada Kristus, karena "damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:7). Ingatlah bahwa sumber dari segalanya adalah Tuhan dan bukan dunia ini. Tuhan sanggup memelihara kita semua tanpa menghiraukan apapun yang pernah, sedang dan akan terjadi di sekeliling kita. Biar bagaimanapun, kita sungguh berharga di mataNya dan sangat dikasihiNya.

Jika hari ini anda merasa lemah, mulailah menegakkan kepala anda. Angkatlah mata anda dan mari pandang Dia. Tuhan ada di atas dan bukan di bawah. Iblislah yang ada di bawah kita, tepat di bawah kaki kita. (Roma 16:20). Karenanya, pandanglah ke atas, dan ingatlah bahwa dalam buah pikiran Tuhan, kita semua adalah anak-anakNya yang sangat berharga dan sangat Dia kasihi.

Tuhan ada di atas, karenanya pandanglah ke atas

Read More..